Ramadhan kali ini, aku tidak dapat lagi menyambangi berbagai masjid seperti tahun-tahun lalu. Biasanya, setiap hari setelah berbuka, aku mendatangi setiap masjid di berbagai tempat secara acak, untuk shalat Isya berjamaah dan dilanjutkan shalat tarawih. Bukan hanya di sekitar kediamanku, tapi ke berbagai masjid di berbagai sudut Jakarta. Begitu setiap hari, setiap malam. Sampai-sampai aku hafal aroma sajadah setiap masjid, dari yang wangi hingga yang apak. Dari yang lembut sampai yang berdebu. Masjid yang bermandikan keringat dan yang berhawa sejuk. Aku pun tahu mana masjid yang menyelenggarakan shalat tarawih seperti ayam mematuk jagung, dan masjid yang mencoba mengikuti para salafiah. Aku juga jadi tahu mana masjid yang memberlakukan shift dalam bertarwih, dan masjid yang menjadikan tarawih sebagai tradisi. Tapi tidak lagi untuk tahun ini. Aku tidak bisa lagi ke mana-mana. Aku terkapar. Duniaku hanya kamar tidurku. Jangankan untuk berjalan ke masjid, untuk melangkah hingga ke pintu kamar saja, kakiku masih melintir.
Ramadhan kali ini, aku tidak ke mana-mana, hanya di kamar. Aku tidak tahu kenapa untuk tahun ini. Allah Swt tidak mengizinkan lagi aku untuk bersafari tarawih, menciumi aroma sajadah setiap kali sujud, menjalin silaturahim dengan sahabat-sahabat baru, berguru pada berbagai ulama, dan tartil Al Quran di lantai masjid bersama kawan baru. Aku tidak dapat lagi berjamaah, menyahut Amin di setiap doa-doa yang dilafaskan sehabis tarawih. Aku masih terkapar. Duniaku tidak lagi mengalir ke berbagai masjid, tetapi sudah menciut di kamar tidur ini. Di atas kasur ini.
Ramadhan kali ini, tidak lagi seperti Ramadhan tahun-tahun lalu. Aku tidak dapat lagi mendengar ayat-ayat dari berbagai surat yang dijaharkan oleh imam tarawih. Tanganku tidak terjulur lagi menyalami jamaah. Tak ada lagi kudengar khatib memulai kultum “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh,” karena suara itu tidak tembus ke kamarku. Aku masih terkapar, membuatku bershalawat sendiri, membaca Al Quran sendiri, shalat sendiri di kursi. Ingin aku seperti tahun-tahun lalu, berkeliling dari satu masjid ke masjid lain, berguru pada setiap khatib, dan pulang ke rumah membawa ilmu baru. Tapi, rupanya Allah Swt ingin melihat aku tinggal di kamar, tidak boleh ke mana-mana lagi, dan menyuruhku membaca lagi berbagai kitab yang kumiliki. Karena itu aku harus terkapar. Mungkin Allah Swt mengingatkan, bahwa banyak saat ini masjid yang sudah terkontaminasi oleh perilaku yang tidak sesuai perintah Allah Swt dan Rasulullah Saw. Mungkin saat ini masjid-masjid itu tidak lagi menjadi pusat ukhuwah. Mungkin di sana sudah menjadi sarang fitnah. Aku tidak tahu karena aku masih terkapar. Dan Allah Swt pun enggan memberitahu penyakit yang kuidap. Pokoknya, terkapar dan diam.
Pamulang, 1 Ramadhan 1430 H
Ramadan dit moment, ik kan niet langer menyambangi verschillende moskeeën, zoals jaren geleden. Normaal, elke dag na het breken van het vasten, ging ik naar elke moskee op verschillende plaatsen in willekeurige volgorde, voor het Isha gebed in congregatie en voortgezet tarawih gebeden. Niet alleen rondom de woning, maar om verschillende moskeeën in verschillende hoeken van Jakarta. Eenmaal per dag, elke nacht. Voor zover ik vertrouwd ben met de geur van de mat elke moskee, waarvan tot op dat muffe geur. Van het zacht totdat het stof. Moskeeën worden badend in het zweet en de lucht af te koelen. Ik weet ook waar de moskee wordt gebeden organiseren tarawih zoals kippen pikken van maïs, en moskeeën proberen salafiah volgen. Ik heb ook geleerd waar de moskee, die opgelegd verschuiving in bertarwih en moskeeën die te maken tarawih als een traditie. Maar ook niet meer voor dit jaar. Ik kan nergens heen. Ik lig. Mijn wereld is gewoon mijn slaapkamer. Laat staan om te lopen naar de moskee, om over te stappen naar de deur van mijn kamer, mijn voeten nog steeds draai.
Ramadan dit moment, ik ga niet overal, alleen in mijn kamer. Ik weet niet waarom voor dit jaar. Allah kan ik niet naar Safari opnieuw tarawih, kussen de mat elke keer de geur van uitputting, vast te stellen vriendschap met nieuwe vrienden, zitten onder een groot aantal geleerden, en Tartil Al Quran op de vloer van de moskee met nieuwe vrienden. Ik kan niet langer congregatie, zei Amin in elke dilafaskan gebeden na tarawih. Ik lag nog steeds. Mijn wereld niet langer stromen naar de verschillende moskeeën, maar is gekrompen in deze slaapkamer. Op de top van deze matras.
Ramadan deze tijd, niet meer zoals Ramadan jaar geleden. Ik kan niet meer hoort de verzen van de verschillende brieven tarawih dijaharkan door priesters. Mijn handen waren niet langer gestrekt pelgrims begroet. Nooit meer hoor ik de prediker begon kultum "Assalam alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu," omdat het geluid niet doordringen in mijn kamer. Ik ben nog steeds liggen, waardoor bershalawat eigen lezing van de Koran zelf, bidden alleen in een stoel. Wil je mij als jaren geleden, reizen van de ene naar de andere moskee moskee, zitten op iedere prediker, en ging naar huis voor een wetenschap die de nieuwe. Maar, het lijkt erop dat Allah wil me zien leven in een kamer, mag niet worden ergens anders, en vertelde me nog eens te lezen de boeken die ik heb. Daarom moest ik sprawl. Moge Allah Almachtige waarschuwde vandaag dat veel moskeeën die zijn besmet door ongepast gedrag bevelen van Allah en de profeet saw. Misschien is dit keer een moskee was niet langer een centrale ukhuwah. Misschien is er een nest van laster. Ik weet het niet, want ik lag nog steeds. En Allah was terughoudend om kuidap laat de ziekte. Anyway, de uitgestrekte en rustig.
Pamulang, 1 Syawal 1430 H
Oleh Afrizal Anoda